Satu emas, satu perak, dua perunggu menjadi bukti bahwa keberanian, disiplin, dan semangat tak kenal menyerah membawa pesilat UNAS bersinar ….

GOR Kota Depok, 19–23 Agustus 2026, menjadi saksi perjuangan para pesilat Universitas Nasional (UNAS) dalam Kejuaraan BNN CUP 7. Bukan sekadar pertandingan, arena ini menjadi tempat para atlet menguji keberanian, mengendalikan emosi, sekaligus membuktikan bahwa latihan panjang tidak pernah sia-sia.

Setelah melewati babak penyisihan, seperdelapan final, hingga semifinal, TIM UNAS akhirnya menutup perjuangan dengan torehan 1 medali emas, 1 perak, dan 2 perunggu. Sebuah hasil yang patut diapresiasi, terutama karena setiap medali lahir dari perjuangan dan pertandingan yang tidak mudah.

Puncak prestasi diraih Suci Ramadhani pada nomor Jurus/Seni Putri. Dengan ketenangan dan konsentrasi tinggi, Suci berhasil merebut medali emas setelah mengalahkan Syafira Dini dengan skor 9855–9765.

Kemenangan itu bukan sekadar angka. Ada latihan, keringat, rasa lelah, dan tentu saja keberanian untuk tampil ketika tekanan pertandingan mencapai titik tertinggi. Suci membuktikan bahwa ketenangan dapat menjadi senjata penting untuk menjadi yang terbaik.

Pada nomor Jurus/Seni Putra, Bayu Aditya juga menunjukkan perjuangan luar biasa. Bayu harus puas dengan medali perunggu setelah dikalahkan Muhammad Syamil Ramadhan dengan skor 9910–9870. Selisih skor yang relatif ketat menunjukkan betapa sengitnya persaingan di arena.

Di nomor tanding, Arsya Putri Hafis tampil penuh percaya diri. Ia mampu menundukkan Ayesha Azka Kenar dengan skor telak 32–0. Performa tersebut memperlihatkan keberanian Arsya dalam mengambil kendali pertandingan sekaligus menjaga fokus hingga akhir.

Delimah juga harus terhenti karena Arsya Putri Hafis berhasil menekuknya dengan angka kemenangan 1-28; tapi sayang, ia harus mengakui kelebihan Ayu Nabila yang mengalahkannya dengan skor  17–23. Namun, kekalahan tersebut tidak membuat Arsya Putri Hafis pupus harapan, ia berjanji akan terus bertarung dan memberikan kemampuan terbaiknya.

Pada partai berikutnya, Muhammad Valiano Al Ubaidah harus mengakui keunggulan Galang Mikhail dengan skor 24–29. Lima angka menjadi pembeda dalam pertandingan yang memperlihatkan semangat juang kedua pesilat.

Namun, di balik angka-angka tersebut terdapat kekuatan lain yang tidak kalah penting: dukungan tim.

Dari pinggir arena, suara Ulfi dan Rizieq menggema melalui yel-yel, “UNAS BISA!”, “UNAS JUARA!”, “UNAS LUAR BIASA!” Teriakan itu bukan sekadar sorakan. Ia menjadi energi yang mengingatkan para pesilat bahwa mereka tidak bertanding sendirian.

Di sisi lain, Coach Yayan dan Coach Dafa terus memberikan arahan dengan pesan sederhana tetapi kuat: “Tenang, fokus, tetap semangat, dan selalu menjadi yang terbaik.”

Pesan itu kemudian dilengkapi pengingat dari Veronica dan Kak Ayu: “Jangan bangga dengan apa yang baru dicapai, tetap berlatih, semangat, dan jangan lupa terus belajar.”

Kalimat tersebut mungkin terdengar sederhana. Tetapi bagi seorang atlet, itulah bekal untuk menjaga kaki tetap berpijak setelah kemenangan dan tetap tegak setelah kekalahan.

BNN CUP 7 akhirnya bukan hanya tentang siapa yang membawa pulang medali. Bagi TIM UNAS, kejuaraan ini adalah tentang proses menjadi lebih matang, lebih berani, dan lebih manusiawi dalam menghadapi kemenangan maupun kekalahan.

Tim Pencak Silat UNAS

Satu emas, satu perak, dua perunggu. Medali boleh dihitung, tetapi semangat tidak memiliki angka. UNAS telah bertanding, berjuang, dan membuktikan: UNAS BISA!

Veronica S/Ayu Kh

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.