
Jakarta, 6 November 2025 — Auditorium Universitas Nasional bertransformasi menjadi episentrum perayaan intelektualitas dan kreativitas dalam acara Seminar Nasional dan Awarding UNAS FEST 2025. Setelah berbulan-bulan persiapan dan kompetisi yang ketat, hari ini menjadi muara dari seluruh rangkaian festival yang diadakan untuk memperingati Dies Natalis Universitas Nasional ke-76, sekaligus menjadi panggung kehormatan bagi para talenta muda terbaik dari seluruh Indonesia.
Kemeriahan acara dibuka dengan prosesi Parade Finalis yang khidmat. Para peserta terbaik dari lima cabang lomba Kompetisi Debat Bahasa Indonesia (KDBI), English Debate Competition (EDC), Scientific Paper Competition (SPC), dan Digital Content Competition (DCC) (Infografis & Short Movie) melintasi panggung dengan bangga, membawa nama almamater mereka. Universitas terkemuka seperti Universitas Negeri Malang, Universitas Sriwijaya, Universitas Pendidikan Indonesia, hingga Universitas Nasional turut diwakili, disambut tepuk tangan meriah dari seluruh hadirin. Suasana semakin semarak dengan persembahan Tari Tradisional Ngganong yang anggun, menjadi simbol penghormatan budaya sebelum memasuki inti acara.
Inti dari perayaan ini dibuka dengan laporan komprehensif dari Project Manager, Nabila Shafa Sabrina, S.Sos. Dalam pidatonya, Nabila Shafa Sabrina, menegaskan visi besar di balik festival tahun ini. “Tahun ini UNAS FEST hadir dengan semangat baru. Melalui tema yang kami angkat, kami berharap kegiatan ini tidak hanya menjadi ajang apresiasi, tetapi juga wadah pembelajaran, kolaborasi, dan inspirasi,” ujar Nabila. “UNAS FEST bukan hanya sekedar perayaan, namun langkah nyata kami untuk membangun masa depan generasi muda serta sebagai bentuk tanggung jawab kami dalam menjaga planet bumi.” Beliau juga melaporkan bahwa festival ini sukses menjaring 58 tim dari berbagai sekolah dan universitas serta lebih dari 250 partisipan seminar.
Semangat ini diperkuat oleh sambutan dari Dr. Dra. Erna Ermawati Chotim, M.Si., selaku Wakil Rektor Bidang Akademik, Kemahasiswaan dan Alumni, Universitas Nasional. “UNAS FEST menjadi wadah, bukan saja untuk mahasiswa Universitas Nasional, tapi juga sebagai wadah kolaborasi, kerja sama, dan silaturahmi antar berbagai mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi,” ungkap Dr. Erna, mengapresiasi tema yang diangkat sebagai cerminan peran aktif universitas dalam menghadapi persoalan global. Acara kemudian dibuka secara resmi melalui prosesi simbolisasi oleh jajaran pimpinan, didahului oleh sambutan virtual dari Rektor UNAS, Dr. El Amry Bermawi Putera, M.A., yang berpesan, “Saya berharap kegiatan ini jadi pengalaman berharga untuk mengasah kemampuan, membangun kolaborasi, dan menyebarkan energi positif.”
Memasuki agenda utama, suasana beralih menjadi forum intelektual dengan dimulainya sesi Seminar Nasional. Panggung utama diisi oleh keynote speaker, Wakil Ketua MPR RI, Dr. Eddy Soeparno, S.H., M.H. Dengan materi yang lugas dan data yang tajam, beliau mengupas tantangan deforestasi di Indonesia. “Faktanya, perbandingan antara kita menanam kembali (reforestasi) dengan kerusakan hutan yang terjadi itu adalah satu berbanding lima. Lima kali lebih cepat kita merusak hutan dibandingkan kita berhasil menanam kembali,” tegas Dr. Eddy Soeparno.

Beliau menjelaskan bahwa deforestasi dipicu oleh alih fungsi lahan dan menekankan pentingnya tiga pilar: regulasi, penegakan hukum, dan pemanfaatan teknologi AI. Sesi seminar menjadi sangat interaktif saat sesi tanya jawab dibuka. Salah satu pertanyaan kritis datang dari Satria (Universitas Negeri Malang), yang menyoroti lemahnya penegakan hukum. Ia mempertanyakan efektivitas Pasal 88 UU Cipta Lingkungan, yang kini menyulitkan penuntutan terhadap korporasi yang berkilah melakukan kerusakan lingkungan secara “tidak sengaja”.
Menanggapi hal ini, Dr. Eddy Soeparno menjelaskan bahwa ini adalah masalah pembuktian yang kompleks dan mengakui bahwa perangkat hukum yang ada belum ideal. Beliau menekankan bahwa penegakan hukum harus kuat dan konsekuen. “Menurut pandangan kami, lebih baik dianggap dulu bahwa itu adalah permasalahan yang memang terjadi atas tanggung jawab yang bersangkutan, ketimbang belum apa-apa kita sudah memberikan proporsi 50% sengaja atau tidak sengaja,” jelas Dr. Eddy, menggarisbawahi perlunya evaluasi hukum agar lebih berpihak pada perlindungan lingkungan.
Setelah seminar yang mencerahkan usai, tibalah momen yang paling ditunggu: panggung penganugerahan. Di cabang Kompetisi Debat Bahasa Indonesia (KDBI), gelar Juara 1 diraih oleh Tim Cakrawala (Universitas Negeri Malang), diikuti oleh Mount Sainte-Victorie Series (Universitas Sriwijaya) sebagai Juara 2, dan Balunijuknesia (Universitas Bangka Belitung) sebagai Juara 3. Gelar Best Speaker KDBI dianugerahkan kepada Videlis Prabinuel Abi (Universitas Negeri Malang). Di panggung English Debate Competition (EDC), Tim Green Hand (Universitas Pendidikan Indonesia) berhasil merebut Juara 1, disusul oleh Double A (Universitas Pancasila) sebagai Juara 2, dan Uwnasers (Universitas Nasional) sebagai Juara 3. Penghargaan Best Speaker EDC jatuh kepada Andre Revyaldo Iglesias (Universitas Pendidikan Indonesia).
Pada cabang Scientific Paper Competition (SPC), Cintia (Universitas Nasional) sukses meraih Juara 1. Resinta Rahma Mareta (Universitas Negeri Surabaya) meraih Juara 2 sekaligus predikat Best Paper, dan Rias Taufik (Universitas Perjuangan Tasikmalaya) sebagai Juara 3. Terakhir, di kategori Digital Content Competition (DCC) – Short Video, Juara 1 dimenangkan oleh Tim Ekonova (SMKN 47 Jakarta), Juara 2 oleh Tim UNVES GNTG (SMKN 8 Jakarta), dan Juara 3 oleh Tim Ekosen (SMKN 47 Jakarta). Sementara itu, di kategori DCC – Infographic, Tim Dallas Desain (SMK Negeri 18 Jakarta) keluar sebagai Juara 1, diikuti Tim Set (SMK Negeri 47 Jakarta) sebagai Juara 2, dan Tim Kurcaci (SMKS Islam PB Sudirman 2 Jakarta) sebagai Juara 3.
Perayaan dimeriahkan dengan rangkaian persembahan seni yang memukau. Dimulai dari penampilan tari kreasi yang energik, dilanjutkan dengan medley nusantara serta penampilan musik yang dibawakan oleh Ronald Lakhomizaro Gulo dan tim GMMA Project. Suasana menjadi syahdu ketika Anastasia Arniati Jenaul membawakan lagu “Selalu Ada di Nadimu”, sebelum akhirnya ditutup dengan penampilan Flashmob dari panitia yang sukses mengakhiri seluruh rangkaian acara dengan penuh semangat dan euforia. (RAH/NRP/AR).